Senin, 08 Juni 2015

Business Process Reengineering for Competitive Advantage


Ada beberapa model dan pendekatan untuk melaksanakan rekayasa ulang proses bisnis (Business Process Reengineering / BPR) di mana suatu organisasi berusaha untuk menerapkannya sesuai kebutuhan dan kemampuan organisasi mereka. Sebuah organisasi yang ingin melakukan BPR harus memeriksa beberapa elemen kunci dari struktur organisasinya terlebih dahulu agar memperoleh keuntungan maksimal dari implementasi BPR. Terdapat tiga metodologi analisis untuk memeriksa elemen kunci tersebut yaitu kopel fungsional (functional coupling), arsitektur triad (triad architectural),  dan kerangka restrukturisasi (restructuring framework). Penelitian ini bertujuan untuk menentukan apakah The Wrigley Company, sebuah perusahaan di Afrika Timur, mampu mencapai keunggulan kompetitif operasional dengan menerapkan Business Process Reengineering (BPR). Selain itu, studi ini juga bertujuan untuk menjelaskan alasan mengapa Perusahaan Wrigley berhasil atau gagal dalam mencapai keunggulan kompetitif dengan menerapkan BPR. Penelitian dilaksanakan untuk mengetahui apakah ada perbaikan dalam pengukuran kompetitif terhadap manajemen biaya, layanan pelanggan, kualitas dan produktivitas. Penelitian ini dilakukan dengan mengumpulkan data primer dari karyawan Perusahaan Wrigley, menggunakan kuesioner online berdasarkan pengukuran kompetitif dan faktor kunci keberhasilan pelaksanaan BPR. Perusahaan Wrigley memperoleh keunggulan kompetitif dengan menerapkan BPR. Hal tersebut menunjukkan bahwa perusahaan tersebut berhasil menerapkan praktik BPR yang sangat penting. Berdasarkan hasil penelitian, penulis merekomendasikan agar organisasi yang ingin melakukan inisiasi BPR harus terlebih dahulu memahami kebutuhan untuk mengubah organisasi. Kemudian perlu dipastikan bahwa mereka mengadopsi faktor kunci keberhasilan pelaksanaan BPR sehingga berdasarkan temuan penelitian ini, keunggulan kompetitif perusahaan dapat dicapai.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar