Senin, 08 Juni 2015

Contoh Pembuatan Database : Database Perusahaan Taksi

Untuk contoh pembuatan database yang lebih rumit, penulis juga telah membuat sebuah contoh database perusahaan taksi. Dalam database tersebut terdapat berbagai jenis tabel dan field yang saling berinteraksi satu sama lain. Tabel tersebut antara lain :
1. Tabel Pool Taksi
2. Tabel Armada Taksi
3. Tabel Pengemudi
4. Tabel Pelanggan
5. Tabel Transaksi Langsung
6. Tabel Transaksi Via Reservation
7. Tabel Lost and Found
Setelah data dimasukan, untuk membengun relasi antar data set dalam sebuah tabel dapat dilakukan dengan memilih menu database tool => relationship => lalu masukan semua tabel => drag field dari sebuah tabel ke tabel yang lain yang memiliki field yang sama => garis relationship terbentuk. Untuk mengubah tipe relationship dapat dilakukan dengan klik dua kali garis tersebut. Setelah realtionship terbentuk barulah dapat membuat query dengan memilih menu create => query  design => masukan tabel yang akan digunakan => masukan field yang akan ditampilkan => masukan logic jika ingin memberikan batasan pada data yang akan ditampilkan pada field tertentu => pilih run.

Contoh Pembuatan Database : Database Asrama Mahasiswa

Database merupakan sebuah hal yang penting dalam sistem informasi. Dalam hal ini, setiap entitas yang menerapkan sebuah sistem informasi yang baik, tentunya harus memiliki database yang baik. Database ini mampu menyimpan seluruh data sesuai kebutuhan, baik data pelanggan, transaksi, ataupun data barang-barang yang ada. Kali ini penulis akan berbagi pengalaman tentang proses pembuatan database asrama mahasiswa menggunakan program Microsoft Access. Pada database asrama mahasiswa di UI ini, terdapat database kamar yang ada di asrama, database penghuninya yang ada sekarang, database tanggal masuk/akan keluar dari setiap penghuni, dan juga database pembayaran kamar. Setiap database akan di link sehingga akan ada relasi antar database. Setelah itu, ada juga query yang berfungsi untuk mencari data-data yang dibutuhkan. Dengan adanya database ini, diharapkan operasional asrama dapat menjadi lebih baik dan teratur.

Research on Storage of Geo-ontology in Relational Database


Geo-ontologi meneliti konotasi rinci dan hubungan hirarkis mengenai konsep informasi spasial geografis dalam berbagai tingkat dan aplikasinya dalam domain ilmu informasi geografis, dan memberikan konsep-konsep identifikasi semantik. Basis data (database) relasional sering digunakan sebagai dasar untuk penyimpanan ontologi jangka panjang untuk memfasilitasi operasi cepat seperti pencarian dan pengambilan, dan untuk memanfaatkan keuntungan sistem manajemen database relasional seperti transaksi manajemen, keamanan dan kontrol integritas. Geo-ontologi disimpan dalam database relasional seperti SQLServer, MySQL dan Oracle. Dalam sebuah jurnal berjudul "Research on Storage of Geo-ontology in Relational Database" diperkenalkan semua jenis skema penyimpanan ontologi berdasarkan basis data relasional dan sistem ontologi yang mengadopsi skema tersebut. Kemudian jurnal ini mengusulkan beberapa prinsip desain dari skema penyimpanan ontologi dalam database relasional yang harus dipenuhi. Pada akhirnya jurnal ini membahas dua metode penyimpanan geo-ontologi dalam database relasional secara rinci.

Sistem Informasi dan Keunggulan Kompetitif


Selama beberapa tahun terakhir ini, topik keunggulan kompetitif telah menjadi fokus dari banyak diskusi. Biasanya, keunggulan kompetitif dapat dicapai melalui pengelolaan sumber daya fisik, akan tetapi sumber daya virtual ternyata juga dapat memainkan peranan pasar yang besar. Michael E. Porter diakui sebagai orang yang paling banyak mengungkapkan konsep keunggulan kompetitif dan mengontribusikan pemikiran-pemikiran mengenai rantai nilai (value chain) dan sistem nilai (value system), yang setara dengan melihat sesuatu secara sistem atas perusahaan dna lingkungannya. Para eksekutif perusahaan dapat menggunakan informasi tersebut untuk mendapatkan keunggulan strategis, taktis, dan operasional.

Business Process Modeling : Kegiatan Sehari-hari Menuju Kampus

Business process merupakan sebuah urutan-urutan proses yang terjadi dalam suatu kegiatan. Seperti salah satunya, kegiatan bangun pagi dari rumah atau tempat kos sampai ke kampus. Kedengarannya sederhana, namun ternyata banyak urutan proses yang terjadi. Misalkan: saat bangun pagi hari, lalu mengecek jam. Akan ada sebuah kondisi, dimana pelaku akan mempertimbangkan berbagai aktivitas kegiatan seperti mengerjakan tugas, belajar sebagai persiapan kuis atau ujian, dan sebagainya. Semua tahap dan proses yang ada dapat dimodelkan dalam sebuah software yaitu Oracle BPM. Melalui software ini user dapat membuat alur secara mendetail dari suatu aktivitas mulai dari yang sederhana hingga yang rumit, sebagai contoh kegiatan menuju kampus ini.

Business Process Modeling : Proses Pengadaan dan Instalasi Mesin Produksi

Penulis kali ini berbagi pengalaman dalam menggunakan software Oracle BPM. Dengan menggunakan Oracle BPM kita dapat mensimulasikan tahapan dari business process seperti pada aslinya dan kita juga dapat memasukan lama waktu yang diperlukan dalam menjalankan sebuah proses serta jumlah entitas yang akan digunakan. Pada kali ini penulis mencoba mengangkat business process dari pengadaan hingga penginstalasian mesin produksi. Adapun tahapan business processnya adalah:
1. Pengecekan kebutuhan mesin
2. Pembuatan form permintaan mesin
3. Membuat surat permintaan dan penawaran harga
4. Mencari preferensi harga mesin
5. Pemilihan supplier
6. Membuat surat penawaran harga
7. Membuat persetujuan dengan supplier
8. Membuat surat order pembelian
9. Menunggu pengiriman barang
10. Menerima mesin dan pengecekan kesesuaian order
11. Membuat laporan pengadaan mesin
12. Penginstalasian mesin
13. Pengujicobaan mesin
14. Membuat laporan penginstalasian mesin
Setelah melakukan pengerunan model, didapati waktu yang dibutuhkan pada beberapa tahap masih terlalu lama dan tidak sesuai, maka dilakukanlah perbaikan waktu proses. Adapun output dari perbaikan tersebut adalah semakin berkurangnya waktu yang dibutuhkan selama proses.

Business Process Reengineering for Competitive Advantage


Ada beberapa model dan pendekatan untuk melaksanakan rekayasa ulang proses bisnis (Business Process Reengineering / BPR) di mana suatu organisasi berusaha untuk menerapkannya sesuai kebutuhan dan kemampuan organisasi mereka. Sebuah organisasi yang ingin melakukan BPR harus memeriksa beberapa elemen kunci dari struktur organisasinya terlebih dahulu agar memperoleh keuntungan maksimal dari implementasi BPR. Terdapat tiga metodologi analisis untuk memeriksa elemen kunci tersebut yaitu kopel fungsional (functional coupling), arsitektur triad (triad architectural),  dan kerangka restrukturisasi (restructuring framework). Penelitian ini bertujuan untuk menentukan apakah The Wrigley Company, sebuah perusahaan di Afrika Timur, mampu mencapai keunggulan kompetitif operasional dengan menerapkan Business Process Reengineering (BPR). Selain itu, studi ini juga bertujuan untuk menjelaskan alasan mengapa Perusahaan Wrigley berhasil atau gagal dalam mencapai keunggulan kompetitif dengan menerapkan BPR. Penelitian dilaksanakan untuk mengetahui apakah ada perbaikan dalam pengukuran kompetitif terhadap manajemen biaya, layanan pelanggan, kualitas dan produktivitas. Penelitian ini dilakukan dengan mengumpulkan data primer dari karyawan Perusahaan Wrigley, menggunakan kuesioner online berdasarkan pengukuran kompetitif dan faktor kunci keberhasilan pelaksanaan BPR. Perusahaan Wrigley memperoleh keunggulan kompetitif dengan menerapkan BPR. Hal tersebut menunjukkan bahwa perusahaan tersebut berhasil menerapkan praktik BPR yang sangat penting. Berdasarkan hasil penelitian, penulis merekomendasikan agar organisasi yang ingin melakukan inisiasi BPR harus terlebih dahulu memahami kebutuhan untuk mengubah organisasi. Kemudian perlu dipastikan bahwa mereka mengadopsi faktor kunci keberhasilan pelaksanaan BPR sehingga berdasarkan temuan penelitian ini, keunggulan kompetitif perusahaan dapat dicapai.